Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Kesusastraan
Sastra atau kesustraan yaitu salah satu bentuk seni yang menampilkan keindahan tutur kata serta cerita.
Dari pengertian secara umum diatas, berikut ini kami juga sertakan pengertian seni sastra berdasarkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Pembelajaran sastra sejak dulu sampai sekarang selalu menjadi permasalahan. Tentu saja permasalahan yang bersifat klasik tetapi hangat atau up to date. Umumnya yang selalu dikambinghitamkan adalah guru yang tidak menguasai sastra, murid-murid yang tidak apresiatif dan buku-buku penunjang yang tidak tersedia di sekolah. Padahal, pembelajaran sastra tidak perlu dipermasalahkan jika seorang guru memiliki strategi atau kiat-kiat yang dapat dijadikan sebagai alternatif.

Karya sastra mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia pendidikan dan pengajaran. Sebab itu sangat keliru bila dunia pendidikan selalu menganggap bidang eksakta lebih utama, lebih penting dibandingkan dengan ilmu sosial atau ilmu-ilmu humaniora. Masyarakat memandang bahwa karya sastra hanyalah khayalan pengarang yang penuh kebohongan sehingga timbul klasifikasi dan diskriminasi. Padahal karya sastra memiliki pesona tersendiri bila kita mau membacanya. Karya sastra dapat membukakan mata pembaca untuk mengetahui realitas sosial, politik dan budaya dalam bingkai moral dan estetika.

Dari dulu sampai sekarang karya sastra tidak pernah pudar dan mati. Dalam kenyataan karya sastra dapat dipakai untuk mengembangkan wawasan berpikir bangsa. Karya sastra dapat memberikan pencerahan pada masyarakat modern. ketangguhan yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Di satu pihak, melalui karya sastra, masyarakat dapat menyadari masalah-masalah penting dalam diri mereka dan menyadari bahwa merekalah yang bertanggung jawab terhadap perubahan diri mereka sendiri.

Sastra dapat memperhalus jiwa dan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk berpikir dan berbuat demi pengembangan dirinya dan masyarakat serta mendorong munculnya kepedulian, keterbukaan, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Sastra mendorong orang untuk menerapkan moral yang baik dan luhur dalam kehidupan dan menyadarkan manusia akan tugas dan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan memiliki kepribadian yang luhur.

Selain melestarikan nilai-nilai peradaban bangsa juga mendorong penciptaan masyarakat modern yang beradab (masyarakat madani) dan memanusiakan manusia dan dapat memperkenalkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, melatih kecerdasan emosional, dan mempertajam penalaran seseorang.

Sastra tidak hanya melembutkan hati tapi juga menumbuhkan rasa cinta kasih kita kepada sesama dan kepada sang pencipta. Dengan sastra manusia dapat mengungkapkan perasaan terhadap sesuatu jauh lebih indah dan mempesona. Seperti ungkapan perasaan cinta Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi dalam bentuk syair yang begitu mempesona
Ilmu budaya dasar adalah suatu ilmu yang mempelajari dasar dasar kebudayaan,serta pengetahuan umum tentang konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah – masalah manusia.
Kesusastraan adalah Sastra, merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
Hubungan ilmu budaya dasar dengan kesusastraan karena mengandung unsur-unsur bahasa. Ada beberapa alasan mengapa ilmu budaya dasar sangat penting hubungannya dalam hal kesuastraan :
1.      sastra merupakan bahasa yang mempunyai kemampuan yang menampung kegiatan manusia
2.       Sastra juga lebih mudah berkomunikasi karena pada hakekatnya karya sastra adalah penjabaran abstraksi.
Hubungan ilmu budaya dasar dengan kesusastraan sangat penting , karena ilmu budaya dasar meliputi dalam hal bahasa.
ada beberapa alasan mengapa ilmu budaya dasar sangat penting hubungannya dalam hal kesuastraan :
1. Sastra menggunakan bahasa. Sementara itu bahasa mempunyai kemampuan untuk menampung hampi semua kegiatan manusia
2. Sastra juga lebih mudah berkomunikasi karena pada hakekatnya karya sastra adalah penjabaran abstraksi. Sementara itu filsafat mengunakan bahasa adalah abstraksi. Cinta kasih, kebahagiaan, kebebasan, dan lainnya yang digarap oleh filsafat adalah abstra. Sifat abstrak inilah yang menyebabkan filsafat kurang berkomunikasi.
3. Sastra juga didukung oleh cerita. Dengan cerita orang lebih mudah tertarik, dan dengan cerita orang leih mudah menemukan gagasan-gagasanya dalam bentuk yang tidak normative.
a) Seni Sastra Tulis
Banyak sekali jenis seni sastra tulisan yang berkembang di masyarakat, misalnya dalam bentuk prosa, puisi, cerita fiksi, dan essay.
b) Seni Sastra Lisan
Seni sastra lisan disampaikan dengan bahasa lisan.
Hubungan Antara Sastra, Seni dengan Ilmu Budaya Dasar
Hubungan sastra dan seni dengan ilmu budaya dasar adalah sama-sama memiliki objek yang sama yaitu manusia. sama-sama mempelajari hubungan antar manusia melalui suatu komunikasi yang beraneka ragam macamnya. dan bayangkan jika manusia hidup tanpa seni. Jika manusia hidup tanpa bisa menyalurkan ekspresi mereka atau tidak bisa berkomunikasi dengan manusia lainnya, maka akan menggangu kejiwaan atau psikologis manusia tersebut.
Prosa
Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karena itu, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.
Prosa lama :

1. Hikayat
2. Sejarah
3. Kisah
4. Dongeng
Prosa baru : 
1. Roman
2. Novel
3. Cerpen
4. Riwayat
5. Kritik
6. Resensi
7. Esai
Nilai-nilai dalam Prosa Fiksi
1. Prosa fiksi memberikan kesenangan
Keistimewaannya pembaca mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalami sendiri peristiwa tersebut
2. Prosa fiksi memberikan informasi

Fiksi memberikan sedikit informasi yang tidak terdapat di dalam ensiklopedi.
3. Prosa fiksi memberikan warisan cultural
Prosa fiksi dapat menstimulasi imaginasi dan warisan budaya bangsa.
4. Prosa memberikan keseimbangan wawasan

Lewat prosa fiksi sesorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman dengan banyak individu.
Puisi
Puisi adalah ekspresi pengalaman jiwa penyair mengenal kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang artistic/esthetic, yang secara padu dan utuh dipadatkan kata – katanya.
Kreativitas penyair dalam membangun puisinya dengan menggunakan :
1. Figura bahasa
2. Kata – kata yang bermakna ganda.
3. Kata – kata berjiwa.
4. Kata – kata yang sudah diberi nilai-nilai, rasa, dan asosiasi-asosiasi tertentu.
Alasan – alasan yang mendasari penyajian puisi pada perkuliahan IBD adalah sbb :
1. Hubungan puisi deengan pengalaman hidup manusia.
2. Puisi dan keinsyafan/kesadaran individual.
3. Puisi dan keinsyafan social.
KESIMPULAN NYA ADALAH :karena ilmu budaya dasar berkaitan dengan bahasa, seni supaya orang lebih tertarik membaca atau membuat karya-karya misalnya , puisi, prosa, novel , dongeng dll
demikianlah tugas yang saya buat kurang atau lebih nya mohon di maklumkan dan di maapkan karena ini tidak semua hasil saya hehehehehe terimakasih 😀 god bless:)
Apa yang dimaksud dengan prosa? Pengertian Prosa adalah suatu karya sastra yang bentuknya tulisan bebas dan tidak terikat dengan berbagai aturan dalam menulis seperti rima, diksi, irama, dan lain sebagainya.
Arti tulisan di dalam prosa bersifat denotatif atau tulisan yang mengandung makna sebenarnya. Walaupun terkadang terdapat kata kiasan di dalamnya, hal tersebut hanya berfungsi sebagai ornamen untuk memperindah tulisan dalam prosa tersebut.
Secara etimologis, kata prosa diambil dari bahasa Latin “Prosa” yang artinya “terus terang”. Sehingga pengertian prosa adalah karya sastra yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta.
Baca juga: Pengertian Cerpen

Ciri-Ciri Prosa

Kita dapat mengenal suatu karya sastra dari karakteristiknya. Adapun ciri-ciri prosa adalah sebagai berikut:
1. Bentuknya Bebas
Seperti yang dijelaskan pada pengertian prosa di atas, bentuk prosa tidak terikat oleh baris, bait, suku kata, dan irama. Umumnya bentuk prosa adalah rangkaian kalimat yang membentuk paragraf, misalnya dongeng, hikayat, dan lainnya. Prosa dapat disajikan dalam bentuk tulisan maupun secara lisan.
2. Memiliki Tema
Setiap prosa pasti memiliki tema yang menjadi dasar dalam cerita dan merupakan pokok bahasan di dalamnya.
3. Mengalami Perkembangan
Prosa selalu mengalami perkembangan karena dipengaruhi oleh perubahan yang ada di masyarakat.
4. Terdapat Urutan Peristiwa
Biasanya di dalam prosa terdapat alur cerita yang menjelaskan urutan peristiwa. Alur peristiwa tersebut ada yang berbentuk alur mundur, maju, atau campuran.
5. Terdapat Tokoh di Dalamnya
Seperti halnya karya sastra lain, di dalam prosa terdapat tokoh, baik itu manusia, hewan, ataupun tumbuhan.
6. Memiliki Latar
Di dalam prosa terdapat latar pada masing-masing kejadian, baik itu latar tempat, waktu, dan suasana.
7. Terdapat Amanat
Di dalam prosa mengandung amanat yang ingin disampaikan kepada pembaca atau pendengarnya sehingga dapat mempengaruhi mereka.
8. Pengaruh Bahasa Asing
Pada prosa bisa dipengaruhi oleh bahasa asing, misalnya bahasa Jepang, atau bisa juga tidak terpengaruh.
9. Nama Pengarang
Setiap prosa tentu ada yang mengarangnya. Namun, nama pengarang tidak selalu dipublikasikan.
Baca juga:
·         Pengertian Novel
·         Pengertian Fiksi

Jenis-Jenis Prosa

Secara umum prosa dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu prosa lama dan prosa baru. Mengacu pada pengertian prosa, adapun jenis-jenis prosa adalah sebagai berikut:

A. Prosa Lama

Prosa lama adalah jenis prosa yang tidak atau belum dipengaruhi oleh kebudayaan luar dan biasanya disajikan secara lisan. Beberapa yang termasuk dalam prosa lama adalah:

1. Hikayat

Bentuk prosa lama yang sifatnya fiktif yang mengisahkan tentang kehidupan peri, dewi, pangeran, puteri, dan raja-raja yang mempunyai kekuatan gaib.
Contoh; Hikayat Hang Jebat, Hikayat Raja Bijak

2. Sejarah (Tambo)

Bentuk prosa lama yang menceritakan peristiwa sejarah dan sesuai fakta. Di dalamnya juga terdapat silsilah raja-raja.
Contoh; Sejarah Melayu oleh Tun Sri Lanang (1612).

3. Kisah

Bentuk prosa lama yang menceritakan mengenai perjalanan, pengalaman, atau petualangan seseorang di jaman dahulu.
Contoh; Kisah Raja Abdullah Menuju Kota Mekkah.

4. Dongeng

Bentuk prosa lama yang berisi cerita khayalan masyarakat di jaman dahulu. Dongeng memiliki beberapa bentuk, yaitu;
·         Mitos (myth), dongeng yang menceritakan kisah-kisah gaib. Contoh; Ratu Pantai Selatan, Batu Menangis, dan lain-lain.
·         Legenda, dongeng yang menceritakan tentang asal-usul terjadinya suatu peristiwa atau tempat. Contoh; Legenda Danau Toba, Legenda Tangkuban Perahu, dan lainnya.
·         Fabel, dongeng yang tokoh di dalam adalah binatang. Contoh; Si Kancil dan Buaya, dan lain-lain.
·         Sage, dongeng yang menceritakan tentang kisah kepahlawanan, kesaktian, atau keberanian seorang tokoh. Contoh; Patih Gadjah Mada, Calon Arang, Ciung Winara, dan lainnya.
·         Jenaka atau Pandir, dongeng yang menceritakan tentang perilaku orang bodoh, malas, cerdik, dimana penyampaiannya dengan humor. Contoh; Lebai Malang, Pak Belalang, dan lainnya.

5. Cerita Berbingkai

Bentuk prosa lama dimana cerita di dalamnya terdapat cerita lagi yang disampaikan oleh tokoh di dalamnya.
Contoh; Cerita Berbingkai Seribu Satu Malam.

B. Prosa Baru

Prosa baru adalah jenis prosa yang telah mengalami perubahan akibat pengaruh kebudayaan barat. Beberapa yang termasuk dalam prosa baru adalah:

1. Novel

Bentuk prosa baru yang di dalamnya terdapat cerita yang panjang mengenai kehidupan tokoh di dalamnya, dan bersifat fiktif atau non-fiktif.
Contoh; Novel Laskar Pelangi, Ave Maria dan lainnya.

2. Cerpen

Bentuk prosa baru yang di dalamnya terdapat kisah tokoh utamanya, konflik serta penyelesaiannya yang ditulis secara ringkas dan padat.
Contoh; Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta, Robohnya Surau Kami oleh A. A. Navis.

3. Roman

Bentuk prosa baru yang di dalamnya terdapat kisah hidup seseorang secara menyeluruh, mulai dari lahir hingga meninggal.
Contoh; Layar Terkembang oleh Sultan Takdir Ali Syahbana.

4. Riwayat

Jenis prosa baru berupa tulisan yang menceritakan mengenai kisah hidup seseorang yang menginspirasi.

5. Kritik

Jenis prosa baru berupa tulisan dimana isinya merupakan tulisan yang memberi alasan atau menilai hasil kerja orang lain.

6. Resensi

Jenis prosa baru berupa tulisan yang berisi rangkuman atau ulasan suatu karya (buku, seni, film, musik, dan lainnya). Di dalam resensi berisi pendapat dari sudut pandang penulis mengenai kelebihan dan kekurangan suatu karya.

7. Esai

Bentuk tulisan yang isinya adalah opini atau sudut pandang pribadi mengenai suatu hal yang menjadi topik utama di dalam tulisan tersebut.
1. Karakteristik Prosa Lama:
·         Statis
Kalau kita baca Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Si Miskin, Hikayat Bangsawan, dan prosa lama yang lain, bentuknya selalu sama, pola-pola kalimatnya sama, malahan banyak kalimat dan ungkapan sama betul, tema ceritanya pun sama.
·         Diferensiasi sedikit
Cerita lama pada umumnya merupakan ikatan unsur-unsur yang sama karena perhubungan beberapa unsur kuat sekali.
·         Tradisional
Prosa lama memiliki pola-pola bentuk yang dijadikan transisi. Kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan yang sama terdapat dalam cerita-cerita yang berlainan, bahkan di dalam satu cerita juga sering diulang-ulang.
·         Terbentuk oleh masyarakat dan hidup di tengah-tengah masyarakat
Kebanyakan hasil sastra dalam kesusastraan lama tidak diketahui siapa pengarangnya. Kalau dicantumkan suatu nama, itu hanya nama penyadur dan bukan nama pengarang yang sebenarnya. Sebab cerita lama itu hidup di tengah-tengah masyarakat yang diceritakan secara turun-temurun.
·         Tidak mengindahkan sejarah atau perhitungan tahun
Sejarah menurut pengertian lama adalah karangan tentang asal usul raja dan kaum bangsawan dan kejadian-kejadian yang penting, tanpa memperhatikan perurutan waktu dan kejadian-kejadiannya (tidak kronologis). Nama-nama tempat terjadinya perisitiwa juga tidak jelas.
·         Bahasanya menunjukkan bentuk-bentuk yang tradisional
– Banyak memakai kata penghubung yang menyatakan urutan peristiwa, misalnya: harta, syahdan, maka, arkian, sebermula, dan lalu.
– Banyak memakai bentuk yang tetap sehingga terdapat banyak pengulangan kata, misalnya: Kata sahibul hikayat, ada sebuah negeri di tanah Andalas Palembang namanya, Demang Lebar Daun nama rajanya, asalnya daripada anak cucu Raja Sulan, Muara Tatang nama sungainya. (dari Sejarah Melayu).
– Banyak memakai bentuk partikel pun dan lah.
– Banyak memakai kalimat inversi, misalnya: Syahdan maka bertemulah rakyat Siam dengan rakyat Keling, lalu berperang. Lalu diceritakanlah segala kelakuan tuan putri dengan nahkoda itu.
·         Pokok CeritaSelalu raja-raja dengan istananya, pemerintahannya, orang bawahannya, dan lain-lain. Tidak pernah menceritakan orang kebanyakan, kalaupun ada, yang diceritakan adalah orang kebanyakan yang luar biasa. Misalnya, orang yang sangat dungu atau yang sangat cerdik dan orang yang selalu malang.

Secara umum, prosa baru dibedakan menjadi tujuh jenis. Jenis jenis prosa baru antara lain roman, novel, cerita pendek (cerpen), riwayat, kritis, resensi, dan esai.

1.      Roman

Mengacu pada pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Istilah ‘roman’ didefinisikan sebagai sebuah karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing masing, lebih banyak membawa sifar sifat zamannya daripada drama atau puisi. Matzkowski (1998) mengemukakan jika istilah ‘roman’ diambil dari Bahasa Perancis, ‘romanz’ yang penggunaannnya mengacu pada semua karya sastra dari golongan rakyat biasa. Istilah ‘roman’ juga identik berasa; dari ungkapan Latin ‘lingua romana’ yang artinya karya sastra dari golongan biasa.
Roman merupakan sebuah karya sastra yang menceritakan kehidupan seorang atau beberapa tokoh, mulai dari kelahirannya, dewasa, hingga keadaan kematiannya. Selain itu, roman juga didefinisikan sebagai sebuah karya sastra yang menampilkan urutan kejadian yang bersambung satu sama lain yang menggambarkan pengalaman  pengalaman tokoh tokoh yang ada dalam suatu situasi kehidupan tertentu. Gambaran pengalaman tersebut dapat berupa gambaran pengalaman  pengalaman secara lahir maupun batin.Roma juga menggambarkan keseluruan perjalanan tokoh lengkap beserta pengalaman dan kehidupan sosial tokoh.
Goethe mengungkapkan jika roman merupakan sebuah karya sastra yang fiksi. Lebih lanjutnya, Goethe mengemukakan jika roman merupakan karya sastra yang mengambarkan peristiwa yang mungkin terjadi dengan kondisi yang tidak mungkin atau hampir tidak mungkin menjadi sebuah kenyataan. Goethe juga mengemukakan jika roman bersifat subjektif karena pengarang akan berusaha mengambarkan dunia menurut pendapatnya sendiri dalam karya sastra tersebut. (Baca : jenis-jenis roman)

2.      Novel

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah ‘novel’ diartikan sebagai karangan yang panjang dan menceritakan rangkaian kisah kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Istilah ‘novel’, secara etimologi berasal dari bahasa bahasa Italia, yakni ‘novella’ yang berarti ‘sebuah kisah atau sepotong cerita’. Isi novel lebih panjang dan kompleks dari cerita pendek (cerpen). Umumnya novel berkisah mengenai pelaku dalam kehidupan sehari hari dengan semua sifat, watak, tabiat, dan kejadian kejadian di seputarnya.
Beberapa ahli di bidang sastra telah mengemukakan pendapatnya tentang pengertian novel. Salah satunya adalah Jakob Sumardjo, beliau mengemukakan pendapatnya jika novel merupakan suatu bentuk sastra yang sangat populer di dunia, bentuk sastra yang paling banyak beredar dan dicetak karena daya komunitasnya sangat luas dalam masyarakat. Ahli lainnya,, Paulus Tukam, mengemukakan pendapatnya jika novel merupakan sebuah karya sastra yang berbentuk prosa dan memiliki unsur unsur intrinsik di dalamnya. Unsur unsur intrinsik di dalam novel antara lain tema, tokoh atau penokohan, alur cerita, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat. Unsur instrinsik ini nantinya akan mmbangun sebuah karya atau karangan novel dari dalam yang akan mewujudkan struktur karya sastra.
Dalam perkembangannya, novel sering kali disamakan dengan roman karena dianggap memiliki berbagai kemiripan jika dilihat sekilas. Meskipun begitu, roman dan novel merupakan dua karya sastra yang berbeda. Menurut perngertian dalam sastra Jerman, berikut ini beberapan hal yang membedakan roman dari novel, yakni
·         Roman merupakan cerita yang djabarkan secara panjang lebar, menceritakan tokoh tokoh atau peristiwa peristiwa fiktif. Sedangkan novel merupakan sebuah cerita yang menyajikan peristiwa peristiwa dengan panjang cerita yang melebihi cerpen akan tetapi lebih pendek daripada roman.
·         Novel ditulis dengan banyak penggunaan repetoar atau realitas eksternal dalam peristiwa historis
Contoh dari karya sastra dalam bentuk novel sangat banyak kita temui, sebut saja novel populer di Indonesia yakni seri ‘Laskar Pelangi’ karya Andrea Hirata, karya karya penulis Tere Liye seperti, ‘Negeri Para Bedebah’, ‘Bulan’, ‘Sepucuk Ampao Merah’, dan lain lain. Contoh novel yang mendapat kepopuleran internasional antara lain seri ‘Harry Potter’ karya J.K. Rowling, seri ‘Twilight’ karya Stephanie Mayer, dan masih banyak lagi.

3.      Cerita Pendek

Cerita pendek atau biasa disingkat menjadi cerpen merupakan sebuah karangan imajinasi yang menceritakan ulang sebuah peristiwa dan biasanya berpusat pada satu pelaku. Jusuf Sjarif Badudu atau lebih dikenal dengan nama J. S. Badudu, seorang pakar Bahasa Indonesia, mendefinisikan cerpen sebagai suatu cerita yang hanya menjurus serta terfokus pada satu peristiwa saja. Selain itu, Jakobus Sumarjo atau Jakob Sumarjo, seorang budayawan dan pelopr kajian Filsafat Indonesia, mendefinisikan cerpen sebagai seni atau ketrampilan menyajikan cerita (skill to present story), yang di dalamnya merupakan satu kesatuan bentuk utuh, manunggal (memfokuskan pada satu bagian atau satu karakter saja), dan tidak ada bagian – bagian yang tidak perlu, tetapi juga ada bagian yang terlalu banyak. Maksud bagian ‘terlalu banyak’ yang diutarakan oleh Jakob Sumarjo ini adalah bagian cerita dari sisi sang  tokoh  atau bagian ‘ke-aku-an’ yang memang menjadi pusat cerita untuk dieksplorasi.
Lain lagi pengertian cerpen menurut Edgar Allan Poe, seorang penulis; penyunting; sekaligus kritikus bahasa berkebangsaan Amerika, yang mendefinisikan cerpen sebagai sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira – kira 30 menit hingga dua jam, atau suatu hal yang sekiranya waktu membacanya tidak mungkin dilakukan untuk menyelesaikan sebuah novel. Sedangkan menurut Hans Bague Jassin atau H. B. Jassin, seorang penulis; penyunting; serta kritikus sastra Indonesia, mendefinisikan cerpen sebagai sebuah cerita singka yang harus memiliki bagian terpenting yakni perkenalan, pertikaian, serta penyelesaian. Beberapa contoh cerpen antara lain ‘Mengenang Sendok dan Sedotan’ karya Dewi “Dee” Lestari, ‘My Last Love’ karya Agnes Davonar, ‘Lelaki Tua dan Laut’ karya Ernest Hemingwang, ‘Pada Sebuah Kapal’ karya N.H. Dini, seta berbagai contoh cerpen yang lainnya. (Baca : macam-macam cerpen)

4.      Riwayat

Istilah ‘riwayat’ diartikan sebagai ‘sebuah cerita yang turun temurun’ atau ‘sejarah’ atau ‘tambo’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Riwayat dapat didefinisikan sebagai sebuah kisah yang berisi tentang pengalaman pengalaman hidup seseorang yang diangkat dari kisah nyata orang tersebut dari lahir hingga meninggal. Pada umumnya tokoh yang menjadi fokus utama dalam riwayat merupakan tokoh-tokoh terkenal atau tokoh-tokoh yang berpengaruh di masyarakat dan menginspirasi. Riwayat dalam kehidupan sehari hari lebih sering dikenal sebagai biografi atau autobiografi. Biografi merupakan riwayat yang ditulis oleh orang lain yang menceritakan tokoh tertentu. Sedangkan autobiografi merupakan sebuah kisah tokoh yang ditulis sendiri oleh tokoh yang bersangkutan. Contoh riwayat yang cukup di kenal adalah ‘Soeharto Anak Desa ’ yang mengisahkan perjalanan hidup Presiden kedua Repulik Indonesia, Bapak Soeharto; ‘Hitler’ karya Ian Kershaw yang mengisahkan tentang pemimpin Nazi selama perang dunia, Adolf Hitler; ‘Chairul Tanjung Si Anak Singkong’ karya Tjahya Gunawan Diredja yang menceritakan tentang salah satu pengusaha sukses Indonesia yang memiliki Trans Corp, Chairil Tanjung; dan lain sebagainya.

5.      Kritik

Secara umum, kritik merupakan tulisan yang menilai baik atau buruk, bermanfaat atau tidaknya, kelebihan atau kekurangan suatu hal, baik berupa karya seni maupun karya sastra. Kritik akan membicarakan dan menilai berbagai unsut yang membentuk karya tersebut dan dikemas dalam sebuah tulisan. Merujuk pada pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah kritik didefinisikan sebagai kecaman atau tanggapan, kadang kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.
Dalam penyampaikan kritik tentu tidak boleh sembarangan. Ada beberapa patokan atau dasar yang harus kita pahami sebelum menyampaikan kritik, antara lain,
·         Pengalaman yang cukup dalam materi kritik.
·         Keilmuan serta pengetahuan yang relevan dengan karya atau suatu hal yang akan dikritik.
·         Penguasaan penerapan metode kritik yang tepat.
·         Penguasaan terhadap media kritik.
Sebagai salah satu karya sastra, genre prosa merupakan yang sering dikaji di lingkungan akademik. Yang dalam istilah prosa sebenarnya memiliki cakupan yang luas tidak hanya tulisan yang bersifat seni yang digolongkan dalam karya sastra tapi juga mencakup berbagai bentuk karya tulis yang berbentuk kajian.
Maka harus diperjelas dengan menambahinya dengan istilah karya prosa fiksi, dengan kata lain hal ini mengkhususkan pada bentuk karya yang imajiner dan estetis. Kata “fiksi” atau fiction diturunkan dari bahasa Latin fictio, fictum yang berarti “membentuk, membuat, mengadakan, meciptakan”.


nilai-nilai dalam prosa fiksi
                Sebagai seni yang bertulang punggung cerita, mau tidak mau karya sastra (prosa fiksi) langsung membawakan moral, pesan atau cerita. Dengan perkataan lain prosa mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra. Adapun nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra antara lain :
      1.Prosa fiksi memberikan kesenangan
Keistimewaan kesenangan yang diperoleh daei membaca fiksi adalah pembaca mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalaminya sendiri peristiwa itu peristiwa atau kejadian yang dikisahkan.  Pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal daerah atau tempat yang asing , yang belm dikunjunginya atau yang tak mungkin dikunjungi selama hidupnya. Pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh yang aneh atau asing tingkah lakunya atau mungkin rumit perjalanan hidupnya untuk mencapai sukses.
      2. Prosa fiksi memberikan informasi
Fiksi memberikan sejenis informasi yang tidak terdapat di dalam ensiklopedi. Dalam novel sering kita dapat belajar sesuatu yang lebih daripada sejarah atau laporan jurnalistik tentang kehidupan masa kini, kehidupan masa lalu, bahkan juga kehidupan yang akan datang atau kehidupan yang asing sama sekali.
      3. Prosa fiksi memberikan warisan kultural
Prosa fiksi dapat menstimuli imaginasi, dam merupakan sarana bagi pemindahan yang tak henti-henti dari warisan budaya bangsa.
      4. Prosa memberikan keseimbangan wawasan
Lewat prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-pengalaman dengan banyak individu. Fiksi juga memungkinkan lebih banyak kesempatan untuk memilih respon-respon emosional atau rangsangan aksi yang mungkin sangat berbeda daripada apa yang disajikan dalam kehidupan sehari.
Sastra Melayu:
Sastra Melayu muncul sejak bahasa Melayu itu sendiri muncul pertama kali. Bahasa Melayu berasal dari daerah Riau dan Malaka, berkembang dan menyebar ke seluruh pelosok nusantara dibawa oleh pedagang. Pada ragam karya sastra puisi, Sastra Melayu yang pertama berbentuk mantera, pantun, syair. Kemudian, bermunculan pantun kilat (karmina), seloka, talibun, dan gurindam. Sedangkan pada ragam karya sastra prosa, Sastra Melayu yang pertama berbentuk cerita-cerita pelipur lara, dan dongeng-dongeng. Dongeng meliputi legenda, sage, fabel, parabel, mite, dan cerita jenaka atau orang-orang malang/pandir.Bahkan, ragam karya sastra melayu ada yang berbentuk hikayat, tambo, cerita berbingkai, dan wiracarita (cerita panji). Pada cerita dongeng sering isinya mengenai cerita kerajaan (istanasentris) dan fantastis. Kadang-kadang cerita tersebut di luar jangkuan akal manusia (pralogis).

Sastra indonesia modern:
Sastra Indonesia modern adalah sastra yang berkembang setelah pertemuan dengan kebudayaan Eropa dan mendapat pengaruh darinya.
Contoh prosa ;
Sekali lagi Tuhan menunjukkan keindahan yang ada pada dirimu,
Keindahan yang membuat perasaanku semakin dalam,
Keindahan yang membuat cintaku semakin besar,
Keindahan yang juga menumbuhkan rasa takut yang begitu besar.
Takut jika keindahan itu membuat hatiku semakin tak terkendali.
Takut jika keindahan itu membuat cintaku kepadamu melebihi cintaku kepada Tuhanku.
Sempurna dalam dirimu
Menyadarkan bahwa memang kamu pantas untuk dicintai,
Dan aku terlalu lancang menjadi salah satu orang yang mencintaimu.
Tetapi tolong biarkan aku tetap dengan cinta ini,
Biarkan aku berusaha dengan caraku.
Berusaha untuk juga menjadi pantas mencintaimu,
Berusaha untuk mendapatkan restu dari-Nya.
Pengertian Puisi – Secara umum, pengertian puisi merupakan suatu karya sastra yang berasal dari ungkapan atau curahan hati penyair. Karya sastra ini dibuat berdasarkan ungkapan perasaan penyair.
Dengan bahasa yang indah dimana di dalamnya mengandung makna, irama, rima, matra dan bait. Berikut akan dijelaskan beberapa pengertian puisi menurut beberapa ahli serta berbagai seluk beluk di dalam puisi.

·         Puisi sering kali mengandung majas metafora
Kreativitas dalam karya seni puisi yang pertama adalah sering kali terdapat sebuah majas metafora yaitu majas yang menggambarkan perbandingan sesuatu berdasarkan unsur kesamaan. Contoh sederhananya adalah seperti kalimat hati yang gundah di ibaratkan sebagai hadirnya mendung.
Kemudian contoh yang lebih mendalam yaitu suatu sikap manusia yang tidak ingin membeda-bedakan sesama dapat di rasakan sebagai sorotan rembulan yang lembut di malam hari; tidak tajam dan tidak mengarah ke diskriminasi.
·         Antara bunyi dan makna kata memiliki tautan “kehidupan”
Kreativitas dalam karya seni puisi yang kedua adalah antara bunyi dan makna kata dalam puisi memiliki tautan “kehidupan “ yang kadang-kadang jelas atau gamblang dan kadang-kadang tersembunyi.
Inilah hakikat yang terus digali oleh para penyair. Mereka seolah-olah harus kembali ke naluri-naluri purba dalam berbahasa, ketika kesan dari gambaran dan suara-suara alamiah menjadi akar dari gagasan berkomunikasi.
·         Mengikutsertakan perasaan dalam pembuatan puisi
Kreativitas dalam karya seni puisi yang ketiga adalah mengikutsertakan perasaan dalam pembuatan puisi. Jadi, penyair harus benar-benar harus menghayati proses pembuatan karya seni puisi dan itu pun harus mengikutsertakan perasaan.
Dan tanpa mengikutsertakan perasaan seperti dalam sebuah irama puisi maka dapat dikatakan bahwa tingkat penghayatan kita belum penuh.
Adapun alasan-alasan yang mendasari penyajian puisi pada perkuliahan ilmu budaya dasar adalah sebagai  berikut :
  1. Hubungan puisi dengan pengalaman hidnup manusia.
Perekaman dan penyampaian pengalaman dalam sastra puisi disebut “pengalaman perwakilan”. Ini berarti bahwa manusia senantiasa ingin memiliki salah satu kebutuhan dasarnya untuk lebih menghidupkan pengalaman hidupnya dari sekedar kumpulan pengalaman langsung yang terbatas. Dengan pengalaman perwakilan itu sastra/puisi dapat memberikan kepada para mahasiswa memiliki kesadan (insight-wawasan) yang penting untuk dapat melihat dan mengerti banyak tentang dirinya sendiri dan tentang masyarakat. Pendekatan terhadap pengalaman perwakilan itu dapat dilakukan dengan suatu kemampuan yang disebut pengalaman yang dituangkan penyair dalam puisinya.
  1. Puisi dan keinsyafan/kesadaran individual.
Dengan membaca puisi mahasisawa dapat diajak untuk dapat menyejukan hati/pikiran manusia, baik orang lain maupun diri sendiri, karena melalui puisinya sang penyair menunjukkan kepada pembaca bagian dalam hati manusia, ia menjelaskan pengalaman setiap orang.
  1. Puisi dan keinsyafan sosial
Puisi juga memberikan kepada manusia tentang pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial, yang terlibat dalam issue dan problem sosial. Secara imaginative puisi dapat menafsirkan situasi dasar manusia sosial yang bisa berupa :
  • Penderitaan atas ketidak adilan
  • Perjuangan untuk sesamanya
  • Konflik dengan sesamanya
  • Pemberontakan terhadap hukum tuhan

Puisi-puisi umumnya sarat akan nilai-nilai etika, estetika dan juga kemanusiaan. Salah satu nilai kemanusiaan yang banyak mewarnai puisi-puisi adalah cinta kasih (yang terdapat didalamnya kasih sayang, cinta, kemesraan dan renungan). Contoh puisi penilis mengangkat tema tentang puisi cinta





Contoh Puisi Balada:
Balada Orang-orang Tercinta
(Karya W.S Rendra)
Kita bergantian menghirup asam
Batuk dan lemas terceruk
Marah dan terbaret-baret
Cinta membuat kita bertahan dengan secuil redup harapan
Kita berjalan terseok-seok
Mengira lelah akan hilang di ujung terowongan yang terang
Namun cinta tidak membawa kita memahami satu sama lain
Kadang kita merasa beruntung
Namun harusnya kita merenung
Akankah kita sampai di altar
Dengan berlari terpatah-patah
Mengapa cinta tak mengajari kita
Untuk berhenti berpura-pura?
Kita meleleh dan tergerus
Serut-serut sinar matahari
Sementara kita sudah lupa rasanya mengalir bersama kehidupan
Melupakan hal-hal kecil yang dulu termaafkan
Mengapa kita saling menyembunyikan
Mengapa marah dengan keadaan?
Mengapa lari ketika sesuatu membengkak jika dibiarkan?
Kita percaya pada cinta
Yang borok dan tak sederhana
Kita tertangkap jatuh terperangkap
Dalam balada orang-orang tercinta





Manusia dan Cinta kasih
A. PENGERTIAN CINTA KASIH
Menurut kamus bahasa indonesia W.J.S Poerwa Darminta. Cinta adalah rasa sangat suka atau rasa sayang ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan, kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Maka, pengertian cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta kepada sesorang. Dan, cinta kasih bisa juga diartikan sebagai perasaan suka atau sayang kepada seseorang dan juga disertai dengan menaruh belas kasih.
Victor Hago menyimpulkan, “mati tanpa cinta sama halnya dengan mati dengan penuh dosa”. Dan Erich Fromm dalam bukunya menyebutkan, “cinta itu yang paling utama adalah memberi, bukan menerima. Yang paling penting dalam memberi adalah hal-hal yang sifatnya manusiawi, bukan material. Yang merupakan ungkapan paling tinggi dari kemampuan”. Cinta dapat berlangsung sesaat, tetapi rasa kasih sayanglah yang akan menuntun dan melanjutkan seseorang untuk mengetahui apa itu arti cinta yang sesungguhnya. Setiap orang memang mempunyai pengertian cinta yang berbeda, tergantung individu itu sendiri yang mengalami suatu kejadian atau pengalaman yang ia alami.
Pengertian cinta kasih adalah suatu perasaan ingin memberikan kasih sayang, perlindungan, kenyamanan, kebahagiaan, dan ketentraman kepada seseorang secara tulus dan ikhlas tanpa ada paksaan atau tuntutan dan tanpa berharap imbalan apapun. Cinta kasih bersifat universal, kita dapat memberikan cinta kasih kita kepada siapa saja. Misalkan orangtua, keluarga, teman, pacar dan orang-orang sekitar.
Cinta selalu menyatakan unsur-unsur dasar tertentu, yaitu :
Pengasuhan : contoh yang paling menonjol adalah cinta seorang ibu pada anaknya; bagaimana seorang ibu dengan rasa cinta kasihnya mengasuh anaknya dengan sepenuh hati. Tanggung jawab : dalam arti benar adalah sesuatu tindakan yang sama sekali sukarela yang dalam kasus hubungan ibu dan anak bayinya menunjukkan penyelenggaraan atas hubungan fisik. Perhatian : yang berarti memperhatikan bahwa pribadi lain itu hendaknya berkembang dan membuka diri sebagaimana adanya. Pengenalan : merupakan keinginan untuk mengetahui rahasia manusia.
Dengan keempat unsur tersebut, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian dan pengenalan suatu cinta dapat dibina secara baik.
1.keterikatan
adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia, ada uang sedikit beli hadiah untuk dia



2.keintiman
adanya kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi panggilan formal seperti bapak, ibu saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan sayang dan sebagainya.makan sepiring berdua

3.kemesraan
adanya rasa ingin membelai dan dibelai, rasa kangen rindu kalo jauh atau lama tak bertemu, adanya ungkapan ungkapan rasa sayang dan seterusnya.

1)    Pertama, Intimasi. Intimasi adalah aspek emosi dari cinta. Intimasi pada awal hubungan tumbuh dengan baik, tapi kalau tidak dirawat bisa menurun ke titik nol. Bila relasi dan komunikasi tidak bertumbuh dengan baik intimasi menjadi mati.
2)   Kedua, Passion atau gairah. Ini adalah sisi motivasi dari segitiga cinta itu. Sisi gairah ini punya peranan penting bagi perkembangan fisiologis dan keinginan yang kuat untuk bersatu dengan yang dicintai. Pada mulanya passion bertumbuh cepat dan sangat kuat, sampai tidak lama kemudian passion ini jadi kebiasaan. Passion punya segi motivasi yang berkekuatan positif. Inilah yang memikat anda kepada seseorang. Ini cepat berkembang dan bisa juga cepat mati. Sisi negatifnya adalah jika hubungan sudah saling menyakitkan maka daya tarik tadi lama kelamaan memudar.
3)   Ketiga, sisi komitmen. Ini merupakan sisi kognitif dari cinta. Komitmen adalah tekad untuk memelihara cinta. Komitmen ini bertumbuh mulai dari taraf nol saat pertama kali bertemu dengan yang dicintai, dan bertumbuh ketika semakin saling mengenal satu dengan lainnya. Kuncinya saling mengenal dan menghargai. Bila relasi melemah maka komitmen juga cenderung melemah.

Tiga Tingkatan Cinta dalam Sufisme

Penulis
 -
1
13532
BincangSyariah.Com – Cinta adalah sebuah emosi yang lahir dari perasaan kasih dan sayang yang kuat terhadap sesuatu atau seseorang yang meliputi pengabdian, ketulusan, kejujuran, rasa ingin memberi, membuat bahagia serta melindungi. Cinta pada hati manusia membawa perasaan bahagia dan rasa syukur yang luar biasa, sehingga manusia dapat merasakan kesempurnaan meski dalam keadaan yang sangat sederhana sekalipun. Dalam Q.S. Maryam ayat 96 disebutkan:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”
Dalam bahasa Arab cinta disebut al-hub atau mahabbah. Kata tersebut berasal dari akar kata habba, hubban, hibban, yang bermakna waddaha, artinya kasih atau mengasihi. Cinta dikenal dengan sebutan mahabbah, karena ia berarti kepedulian yang paling besar dari cinta hati. Namun ada juga yang berpendapat bahwa cinta berasal dari kata habba yang bermakna biji-bijian, jamak dari habbat.
Sehingga kata habbat al-qalb berarti sesuatu yang menjadi penopang hati. Jadi cinta dinamakan hub dikarenakan ia bagai biji tersimpan dalan hati yang darinya akan tumbuh perasaan yang melebihi simbol dan tidak terkonsepkan. Seseorang tidak akan mengerti cinta sampai ia mengalaminya karena ia adalah sesuatu yang timbul akibat pengalaman batin seseorang. Begitulah keterangan yang dituliskan dalam “Senandung Cinta Jalaluddin Rumi” karya Saiful Jazil.
Sementara Zakariyah juga mencoba menarsirkan cinta dalam kitab Mu’jam al-Maqayiz fi al-Lughah, bahwa cinta atau hub berasal dari akar kata “ha” dan “ba”. Kata ini mempunyai banyak arti, di antaranya, “al-ma’ruf” berarti yang dikenal atau terkenal, “al-luzum”, berarti yang sudah lazim.

Jika dianalisis, kedua makna cinta tersebut pada hakekatnya mempunyai esensi makna yang sama, yaitu ketika seorang mencintai sesuatu harus ada pengetahuan dan pengenalan terlebih dahulu terhadap objek yang dicintai, sehingga dengan mudah dapat bergaul, berdialog akrab, bahkan “menyatu” dengan yang dicintai, yang dalam wacana sufi selalu dialamatkan kepada Tuhan.

Cinta dalam pandangan para sufi adalah cinta dan kerinduan kepada Allah. Cinta yang seperti ini, menurut Maulana Rumi terbagi ke dalam tiga tingkat, yakni,
(1) Cinta karena pemberian. Cinta seperti ini berada pada tingkat yang paling rendah. Ibarat cinta seorang anak kecil, jika mereka mencintai orang tua atau orang lain, dipastikan karena mereka sering memberikan hadiah kepadanya. Cinta pada tingkat ini sangat labil dan tidak konsisten, jika kesehatan, kecantikan, ketampanan atau kekayaan dihilangkan atau dicabut oleh Allah, ia akan berkeluh kesah seakan akan Allah tidak pernah mencintai dirinya,
(2) Cinta atas dasar kekaguman. Manusia mencintai Allah, karena Allah memang Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Mencintai sesuatu atas dasar kekaguman, seperti seseorang mencintai karena orang tersebut memiliki kelebihan dan keluarbiasaan, dan
(3) Cinta tanpa alasan. Jika seseorang ditanya “Mengapa mencintai Allah?” lalu menjawab “Saya tidak tau mengapa saya mencintai Allah”. Ia sudah berusaha keras mencari jawaban atau alasan, tapi tidak juga bisa ditemukan. Sebenarnya bukan tanpa alasan, justru begitu banyak alasan sehingga tak mampu ia ungkapkan. Itulah cinta yang suci dan tulus. Begitulah cinta para sufi kepada Allah. Sebuah cinta tanpa mengharap apa-apa.
Sementara menurut Imam al-Gazali, berdasarkan tingkatan cinta tersebut maka bentuk cinta kepada Allah itu bisa berbentuk dalam dua hal, yakni

(1) Orang yang jatuh cinta kepadaNya (Allah) setelah merasakan lezatnya pertemanan denganNya. Orang yang jatuh cinta kepada Allah karena perjumpaan dengannya, maka kecintaannya tidak dapat dibandingkan. Ia melihat (ma’rifat) dulu, kemudian jatuh cinta setelah pertemuan itu, dan
(2) Orang yang disebut al-dhu’afa’ (orang-orang yang lemah). Umumnya orang jatuh cinta setelah berusaha setengah mati belajar mencintai Dia. Cinta seperti ini direkayasa. Ia tidak jatuh cinta, tapi belajar mencintai.
Imam Al-Ghazali menambahkan bahwa esensi cinta (mahabbah) yaitu “Sesungguhnya kecintaan yang paling tinggi setelah diraihnya adalah mahabbah. Tidak ada maqam lain kecuali buah dari mahabbah itu. Tidak ada maqam-maqam sebelum mahabbah, kecuali pengantar kepada mahabbah.
Demikianlah konsep cinta dalam sufisme menunjuk pada kecintaan dan kerinduan untuk bertemu dan bahkan menyatu dengan Allah. Cinta merupakan puncak perjalanan ruhani dan pendakian mistik seorang hamba menuju kehadiratNya. Mencintai Allah, mustahil adanya tanpa didahului pengetahuan dan pengenalan atasNya.
Agape, cinta tak bersyarat
Agape merupakan cinta yang altruistik atau sukarela, tanpa pamrih, dan tanpa syarat. Beberapa orang akan menggambarkan agape sebagai tipe cinta spiritual.
Orang-orang Yunani berpikir tipe cinta ini cukup radikal, mungkin karena hanya sedikit orang yang tampaknya mampu merasakannya dalam jangka panjang.
Beberapa orang akan menggambarkan agape sebagai tipe cinta spiritual, misalnya, orang Kristen percaya bahwa Yesus menunjukkan kasih semacam ini untuk semua manusia. Dia rela mengorbankan diri sendiri sehingga orang lain bisa terbebas dari dosa-dosa mereka. Dia menderita untuk kebahagiaan orang lain.
Agape merupakan bentuk cinta tertinggi yang diberikan secara bebas tanpa ada keinginan, harapan, atau penilaian.
Eros, cinta erotis
Istilah eros diambil dari nama dewa cinta dan kesuburan Yunani. Oleh karena itu, biasanya dikaitkan dengan cinta romantis, bergairah, dan fisik.
Tipe cinta ini meliputi sensasi gairah dan hasrat seksual.
Orang-orang Yunani sebenarnya cukup takut dengan cinta tipe eros. Mereka berpikir akan mengakibatkan hilangnya kontrol.
Philia, cinta penuh kasih
Orang-orang Yunani mendefinisikan jenis cinta ini sebagai kasih sayang, seperti jenis cinta yang Anda rasakan pada teman-teman. Banyak yang berpikir cinta semacam ini lebih baik daripada eros karena mewakili cinta antara orang-orang yang menganggap diri mereka setara.
Seperti ditulis Psychology Today, philia adalah cinta antara orang yang berbagi niat baik terhadap satu sama lain. Orang Yunani kuno menghargai philia dibandingkan semua jenis cinta lainnya karena merefleksikan perasaan persahabatan yang mendalam, termasuk kesetiaan, berbagi emosi, dan rasa pengorbanan bersama.
Persahabatan yang didirikan atas kebaikan tidak hanya terkait dengan keuntungan bersama tetapi juga dengan persahabatan, ketergantungan, dan kepercayaan.
Philautia, cinta diri sendiri
Philautia adalah cinta diri sendiri. Dalam masyarakat modern, kebanyakan orang mengasosiasikan cinta terhadap diri sendiri dengan menjadi narsis, egois, atau terjebak pada diri mereka sendiri. Namun, ini bukan apa yang dimaksudkan oleh orang Yunani kuno dengan philautia.
Mencintai diri sendiri adalah fondasi untuk mencintai orang lain. Orang yang membenci diri sendiri akan memiliki sedikit cinta untuk diberikan.
Waspadai bentuk negatif dari philautia, yaitu narsisisme, yang didefinisikan oleh obsesi diri, kesia-siaan, dan fokus sempit pada keuntungan pribadi seseorang.
Storge, cinta keluarga
Storge dapat didefinisikan sebagai "cinta yang akrab." Jenis cinta ini terlihat dan terasa sangat mirip dengan philia atau kasih sayang yang dirasakan di antara teman-teman. Namun, cinta ini lebih kepada cinta orang tua dan anak.
Sama seperti philia, tidak ada ketertarikan fisik atau seksual. Namun, ada ikatan yang kuat, kekeluargaan, dan keakraban di antara orang-orang. Secara lebih luas, storge adalah cinta yang lahir dari keakraban atau ketergantungan, tetapi tidak bergantung pada kualitas pribadi seseorang.
Pragma, cinta abadi
Orang Yunani kuno mendefinisikan pragma sebagai “cinta abadi.” Tipe ini kebalikan dari eros.
Cinta tipe eros cenderung cepat pudar karena gairah dan intensitasnya. Pragma adalah cinta yang telah matang dan berkembang dalam jangka waktu yang lama.
Namun, jenis cinta semacam ini sulit ditemukan, apalagi pada orang yang sering melihat rumput tetangga lebih hijau dan memiliki karakter tidak sabar.
Padahal, pragma hanya butuh pasangan yang pandai kompromi dan sama-sama berusaha untuk berbahagia.
Ludus, cinta yang menyenangkan
Ludus digambarkan pada awal-awal jatuh cinta yang diwarnai perasaan tergila-gila pada pasangan. Anda akan merasakan sensasi kupu-kupu di perut dan perasaan tidak ingin hidup tanpa orang yang dicintai. Ludus membuat orang gembira dan bersemangat.
Ludus adalah cinta yang menyenangkan atau tidak berkomitmen. Hal ini dapat melibatkan kegiatan seperti menggoda dan merayu. Fokusnya adalah pada kesenangan, dan kadang-kadang juga pada penaklukan, tanpa pamrih.
Mania, cinta yang obsesif
Mania merupakan jenis cinta yang dapat menuntun seseorang pada ambang kewarasan, menciptakan kecemburuan, atau bahkan kemarahan. Terjadi karena keseimbangan antara eros dan ludus yang sangat melenceng.
Banyak orang dengan mania memiliki tingkat percaya diri rendah, takut kehilangan orang yang dicintai, kemudian ketakutan ini memaksa untuk melakukan hal-hal gila untuk mempertahankan.
Pengertian Kasih Sayang – Kasih sayang adalah bentuk perasaan yang menarik untuk dibahas. Dari zaman ke zaman, perbincangan mengenai kasih sayang tak akan ada habisnya. Kasih sayang adalah sesuatu yang dianugerahkan Pencipta kepada manusia sehingga kasih sayang sudah tertanam di dalam diri masing-masing invidu sejak ia lahir. Kasih sayang ternyata memiliki arti yang sangat luas. Berbagai teori diciptakan untuk mengartikan dan memaknai apa itu kasih sayang yang sebenarnya.

Kemesraan
Pengertian kemesraan :
Kemesraan berasal dari kata mesra yang berarti erat atau karib sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan sangat erat atau karib. Kemesraan juga bersumber dari cinta kasih dan merupakan realisasi nyata. Kemesraan dapat diartikan sama dengan kekerabatan, keakraban yang dilandasi rasa cinta dan kasih.
Puisi tentang kemesraan :
KEMESRAAN DI DALAM CINTA
“Hidup ini indah karena Cinta”
Aku tak tau mencinta..
Sebelum ku terlahir jadi manusia..
Ku tak tau tuk apa ku tercipta…
Karena tiada yang mau..
Mengajarkan aku untuk mencinta..
Seandainya cinta kurasa sejak dini..
Ku pasti tak merasakan terabai…
Karena dia, yang jadi milikku..
Begitu baiknya ajarkan aku mencinta…
Ajariku tuk menyayanginya..
Dan memberikan aku semangat hidup….
Keluh kesahku tak pernah ada..
Karena dia, yang slalu menasehatiku..
Mempersembahkan canda pada hatiku…
Sehingga berwarnalah dunia ini…
Aku tak mau, kehilangan kemesraan ini..
Ajarilah aku slalu sayangku..
Kuingin slalu bersamamu..
Menjaga cintamu..dan memelukmu…
Tak sekedar ciuman mesra untukmu..
Tapi pengorbanan raga, kusiap sedia untukmu…
Aku cinta kamu….
Pemujaan
Pengertian pemujaan :
Salah satu mannifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini ialah karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya.
4.6. Belas Kasihan
Pengertian belas kasih :
Belas kasih (composian) adalah kebajikan satu di mana kapasitas emosional empati dan simpati untuk penderitaan orang lain dianggap sebagai bagian dari cinta itu sendiri, dan landasan keterkaitan sosial yang lebih besar dan humanisme-dasar ke tertinggi prinsip-prinsip dalam filsafat, masyarakat, dan kepribadian .
Cara-cara menumpahkan belas kasih :
Berbagai macam cara orang memberikan belas kasihan bergantung kepada situasi dan kondisi, seperti :
1. Ada yang memberikan uang.
2. Ada yang memberikan barang.
3. ada yang memberikan pakaian, makanan dll.
Cinta Kasih Erotis
Pengertian cinta kasih erotis :
Cinta erotis adalah kehausan akan penyatuan sempurna akan penyatuan dengan yang lainnya. Keinginan untuk bersatu dan berteman dengan lawan jenis, untuk menghilangkan sepi atau untuk menenangkan suatu naluri seksual. Cinta kasih dapat merangsang keinginan untuk bersatu secara seksual. Namun apabila penyatuan fisis tadi tidak dilandasi oleh cinta kasih maka hanya akan membawa pada penyatuan yang bersifat pesta pora dan sementara saja.
Cinta kasih erotis, apabila benar-benar sebuah cinta sejati, mempunyai satu pendirian yaitu bahwa seseorang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya dan menerima pribadi lawan jenisnya. Cinta ini terjadi antara dua orang anak manusia berlainan jenis, yang ingin menyatukan diri mereka untuk mengisi kekosongan hidup dan sebagai teman hidup dalam mengarungi bahtera kehidupan.













Sumber Referensi ;


Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Kesusastraan

Manusia dan Cinta kasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini